TIME TO CHANGE: Things will be better when we don’t care too much.

Tak perlu memberi tahu seberapa hebat dirimu, atau apa yang bisa kamu lakukan. Karena orang yang menyayangimu tak membutuhkan itu. Dan orang yang membenci, akan terus mencaci tanpa menghiraukan kebaikanmu.

Suatu ketika, aku pernah membaca sepenggal quotes yang berisi kurang lebih sama dengan yang tertulis di atas, lalu terdiam sejenak lalu berpikir. “Benar juga ya.. di dunia ini, bisa dikatakan hampir mustahil jika kita berharap semua orang berada di pihak kita dan melihat dari kacamata yang sama.”, gumamku.

Setiap individu berhak menyukai, membenci, dan mencinta berdasarkan pandangan mereka masing-masing. Kita tidak bisa mengontrol apa yang ada dalam pikiran mereka. Dan menerka, hanya akan membuat kita tersiksa, bahkan bisa menimbulkan sakit hati. Kita juga tidak punya wewenang untuk menutup mulut orang lain atau melarangnya untuk bicara. Biarkan saja mereka berkata apa yang ingin mereka katakan, toh hukum alam mengenai karma itu pasti ada, dan aku percaya itu.

Adalah lebih penting jika kita memfokuskan semua pada diri sendiri, bagaimana cara mengontrol pikiran agar tetap mengacu pada tujuan awal. Jangan biarkan lingkungan merubah diri kita, atau ucapan orang lain membuat kita terus kepikiran. Bahagia, adalah kata kuncinya.

Ada saatnya kita diam.

Menutup semua pandangan tentang dunia, walau kita tidak buta.

Ada baiknya kaki ini terus melangkah.

Tanpa henti, walau mungkin lelah untuk menopang semua penat dada.

Ada benarnya menghapus memori, setelah memaafkan.

Memaknai semua lembar baru dengan warna berbeda.

sign

Asking, Judging, Repeat.

Memasukki minggu kedua di bulan Ramadhan, dan itu berarti tinggal 2 minggu lagi sebelum pertanyaan-pertanyaan dengan frekuensi melebihi 20kHz bermunculan. Yang anehnya, pertanyaan ini sangat sering ditanyakan oleh orang yang mungkin kita ga kenal, atau hanya pernah bertemu sekali-dua kali saja.

We need “filters” to our ears.

“Kapan nyusul? Kapan marriednya? Udah umur berapa lho, masa ga nikah-nikah?”. Ini  adalah contoh pertanyaan yang sering diluncurkan kepada pasangan yang pacaran udah lama tapi belum juga mengambil keputusan buat menikah. Atau kepada mereka yang sudah menikah tak jarang mendapat pertanyaan, “Udah isi belum? Kamu udah hamil? Anaknya laki-laki atau perempuan?”, dengan santainya meluncurkan pertanyaan klise hanya untuk sekedar berbasa-basi tanpa memikirkan perasaan orang yang ditanya. Terlebih saat berkumpul bersama saat momen hari raya, hari dimana kita saling bercakap tentang hal baik di hari yang mulia.

Memutuskan untuk menikah, bukan hal yang mudah, seperti membalik telapak tangan.

Dan dikaruniai seorang anak, bukan seperti membuat kue, tinggal campur adonan, kemudian langsung jadi.

Continue reading “Asking, Judging, Repeat.”

Kegagalan Sebagai Awal

Ga ada satupun manusia di bumi ini yang selama hidupnya ga pernah mengalami suatu kegagalan. Dan ga ada pula satu orang pun yang kebal rasa sakit, saat yang diharapkan ternyata meleset dari jalan pikiran. Iya. Aku, kamu, kita, semua pasti pernah gagal, entah itu menyangkut hal sepele atau besar, tentang pelajaran atau roman, dan tentang mimpi di masa depan.

Seiring waktu berjalan, aku menyadari bahwa kehidupan dimulai saat kita belajar mengenal suatu kegagalan, bukan sebagai hal yang harus ditakuti atau dihindari. Namun sebaliknya, anggaplah itu sebagai batu lompatan dan pembelajaran untuk berbuat lebih baik. Sakit saat terjatuh, membuat kita lebih berhati-hati melangkah. Rasa kecewa mengajarkan kita agar tidak berharap berlebih, terutama pada manusia. Dan penyesalan membuat kita berpikir lebih bijak sebelum mengambil keputusan.

Hidup ini penuh pembelajaran. Dan Tuhan memberi kita kesempatan berkali-kali untuk mencoba, sebelum akhirnya kita berhasil meraihnya. Yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan tujuan dan keinginan awal, semua bisa diusahakan selama kita masih mau mencoba.

Tahu kisah Thomas Alva Edison? Menghabiskan total hampir 6000 bahan, beliau menghadapi puluhan-bahkan ratusan kali eksperimen gagal sebelum bohlam berhasil diciptakan. Begitu juga dengan para penemu ilmiah lain, hampir mustahil ada yang dapat berhasil menemukan hal baru tanpa disertai kegagalan sebelumnya.

Satu hal yang bisa aku simpulkan disini, “Gagal, kegagalan” bukan saat kita tidak mendapat apa yang kita harapkan, tapi kegagalan sesungguhnya adalah disaat kita kehilangan tujuan awal, sinar harapan dan kepercayaan diri, bahwa kelak semua akan berhasil terwujud.

sign