Automation Dilema

Seiring dengan perkembangan teknologi, belakangan ini, hampir semua sistem disertai dengan fitur “Auto“, yang berarti mesin akan mengambil alih kerja yang harusnya dilakukan oleh manusia. Contoh umum adalah Automation system pada mobil, yang membantu para pengemudi untuk mengendarai mobilnya dengan mudah, tanpa harus menginjak pedal kopling. Atau, Automation system pada pesawat terbang, yang dapat mengontrol laju cepat, arah dan ketinggian pesawat secara otomatis. Tak hanya itu, banyak sekali contoh lain disekeliling kita dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam menggunakan Smartphone, kamera, serta teknologi lainnya.

Sekarang kita hidup di jaman dimana hampir semua sistem diciptakan untuk “memudahkan” tugas para penggunanya. Jika dilihat dari satu sisi, tentu saja hal ini membawa dampak yang sangat baik, karena dapat membantu manusia mengerjakan segala sesuatu menjadi lebih mudah. tak hanya itu, efisiensi pengerjaan tugas menjadi meningkat, dan wakktu yang digunakan menjadi lebih singkat. Dengan adanya Automation system ini, kita gak perlu ambil pusing dan bersusah payah untuk mengerjakan sesuatu secara manual.

Dimana system yang mengerjakan tugas, dan manusia hanya menjadi pengamat.

Namun, apakah Automation system ini selalu berdampak baik? Tentu saja tidak. Akan selalu ada pro-kontra, plus-minus, dalam penciptaan hal baru. Efek negatif yang diciptakan atau terlahir dari sebuah proses otomatisasi, disebut Automation dilema. Continue reading “Automation Dilema”

Self Cashier: Bakery Scan

Okay. Now I have ten minutes to write about new technology in Japan recently. This week, I read a news article about AI system that can help people saving their times. When people buy something at supermarket or shop, they’ve to line up to pay near cashier. But now, we don’t have to wait for a long time. Nowadays, with recognition systems, people can do their ‘self cashier’ like this one.

First step is, put all bread on the tray, and go to the counter. Then, put that tray under scanner, and system will recognise breads that you took. After all the breads were scanned, then you click calculate button, pay, and you get yours.

This system need high-accuracy level to recognise kind of breads. It’s kinda difficult, especially when it looks same but has different filling. And also, the chef have to maintain bread’s shape and looks, so system could recognise it easily without any error and mistakes. Anyway, some of bakery in Tokyo have implemented this Bakery Scan system to their shop, so consumer won’t wait for long time to get their bread!

sign

Mini4wd AI [ミニ四駆AI]

Happy Saturday! Saya mau cerita tentang kesibukan di kampus akhir-akhir ini, yang hampir bikin pusing tiap hari. Tanggal 9 Maret lalu, saya ditunjuk sebagai perwakilan lab untuk mengikuti Game AI Tournaments 2016, di bidang Mini4wd AI.

_MG_5886.jpg1235538_1109943779056520_9026869287042987209_n.jpg

Game AI Tournaments adalah sebuah kompetisi game, dimana para peserta tidak hanya memainkannya dalam mode biasa. Misalnya, di bidang Chess AI, para peserta diwajibkan menciptakan sebuah program permainan catur yang telah didesain dan diberi “kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)”. Kemudian Chess AI yang telah diciptakan para programmer, diadu dan diduelkan dengan ciptaan game maker lainnya. Disini, algoritma sistem, dan machine learning, sangatlah berperan penting. Terlebih karena kompetisi ini bukan pertandingan antar manusia, melainkan AI system vs AI system.

Saya sendiri masih tergolong pemula, karena basic saya bukan seorang gamer. Malah sejak masih anak-anak, saya dilarang bermain game, apalagi PS dan game konsol lainnya. (LOL!) (^-^;) Namun itu bukan hambatan besar, karena jika paham mengenai prinsip dasar AI system, machine learning, kita bisa menciptakan kecerdasan buatan itu sendiri.

Anyway, sistem dapat digolongkan “cerdas”, jika mereka dapat berpikir sendiri untuk mengambil keputusan dan mengalahkan lawan main. Mereka diberi data awal dalam jumlah besar yang disimpan dalam database  terlebih dulu. Kemudian, game maker yang memutuskan algoritma dan cara kerja sistem tersebut. Kalau saya, karena di bidang Mini4wd AI, terlebih dulu saya merakit rangkaian elektronik di board, kemudian memasukkan program dasar ke Arduino (Fyi, Arduino ini banyak sekali jenisnya. Tapi yang saya pakai adalah Arduino pro Mini, karena ukurannya yang kecil sehingga dapat diletakkan diatas cover Mini4wd).

12790836_1103030149747883_6169167007903719980_n (1).jpg

Continue reading “Mini4wd AI [ミニ四駆AI]”

Rekomendasi Menu Realtime Berdasarkan Situasi Saat Makan

Author : Yuriko Kourai, Yuichiro Otsuka, Tomoo Inoue

Date , and Place of Publication : 2010, at IPSJ SIG Technical Report.

  Thesis kali ini berkaitan dengan sistem rekomendasi menu masakan saat user sedang dalam situasi makan diatas meja secara realtime dengan metode FDT (Future Dining Table). FDT ini adalah suatu metode dimana sistem dapat mengenali gerakan tangan manusia saat mengambil makanan dengan menggunakan sendok/garpu/sumpit dan alat makan lainnya, lalu sistem akan mengambil tindakan berdasarkan riwayat saat user salam kondisi makan. Setelah itu, secara otomatis pada waktu tertentu akan memberikan rekomendasi menu yang baru kepada si usernya.Screenshot 2015-12-07 17.54.10.png Continue reading “Rekomendasi Menu Realtime Berdasarkan Situasi Saat Makan”

Robot vs. Manusia

Satu hal yang membuatku memilih untuk melanjutkan study ke Negeri Matahari Terbit ini adalah karena kemajuan teknologinya yang canggih, atau dapat dikatakan menduduki peringkat teratas di Asia. Berkat dari kemajuan teknologi ini, muncul sisi positif maupun negatif dari pengaplikasiannya.

Positifnya

Tentu saja ada pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia, atau akan berbahaya jika dilakukan secara terus-menerus. Contohnya adalah seperti mengambil sample zat dalam ruangan yang positif terkena efek kebocoran radiasi aktif. Atau seperti mengangkat beban berat yang tidak mampu dilakukan seorang diri. Disini, peranan robot dapat dikatakan untuk membantu meringankan beban pekerjaan, serta menggantikan tugas yang hampir mustahil manusia lakukan. Sedangkan dalam bidang lain, seperti entertainment, saat ini sudah banyak robot yang bisa bernyanyi, melakukan tarian sederhana, atau menghibur / mengajak manusia berinteraksi, seperti Pepper dari perusahaan komunikasi seluler Softbank, Jepang.

Berinteraksi dengan manusia? 

Iya, mereka menggunakan face recognition system, atau sistem pengenalan wajah dengan menggunakan kamera lalu diubah dalam bentuk data, diekstrasi lalu dicocokkan dengan database yang sudah tersimpan sebelumnya. Sedangkan teknologi seperti Siri (iPhone), menggunakan voice recognition system, yaitu sistem pendeteksi frekuensi suara lalu diubah dalam bentuk data selanjutnya. Hingga saat ini, kemajuan kedua sistem dapat dikatakan berkembang dengan pesat, namun belum sampai tahap pengenalan 100%, atau tanpa kesalahan sedikitpun.

170771
Source: http://www.ceron.jp

Negatifnya

Berkaitan dengan sistem kerusakan yang dapat terjadi pada software maupun hardware, yang dikarenakan faktor kesalahan perhitungan (human error) saat proses pembuatan robot. Kerusakan dapat berupa mesin yang tidak bergerak lagi, ledakan kecil hingga besar yang mungkin dapat mengancam keselamatan manusia. Selain itu, kebutuhan akan  tenaga kerja manusia pun dapat dikatakan menurun, karena para perusahaan produksi lebih memilih menggunakan tenaga kerja robot dengan efisiensi yang tinggi dan biaya yang tidak semahal untuk membayar kinerja manusia per-jam-nya.

Berkaitan dengan penemuan akan hal baru, tentu saja dapat menimbulkan pro dan kontra. Namun disinilah tugas manusia; sedapat mungkin menekan hal yang dapat menjadi kontra, kemudian fokus dalam perkembangan positif sehingga akan lebih banyak pro dan manfaatnya. Walaupun robot dapat membantu tugas dan kinerja manusia, namun tetap, posisi tersebut tidak dapat tergantikan sepenuhnya. Pencipta robot adalah kita, manusia, dengan banyak sekali kekurangan dan ketidaktahuan dalam semua hal. Sedangkan pencipta manusia, adalah Tuhan, yang Maha Mengetahui segalanya. Tentu saja ini sudah dapat menjawab segalanya, bukan?

Dan jika ada yang bertanya, “Apakah suatu saat robot dapat menggatikan peran manusia?”, aku akan menjawab, “Tidak.”

-G.A

Carilah Sebuah Masalah, Lalu Pikirkan !

Di postingan kali ini, aku mau cerita sedikit tentang penelitianku sekarang. Jadi, selain wajib membaca thesis luar negeri, kami juga diwajibkan untuk mempresentasikan isi nya (tujuan, algoritma, tata cara percobaan, dan hasil) dalam waktu kurang lebih lima menit. Setelah itu ada edisi tanya-jawab dan komentar tentang thesis yang dibacakan tadi. Kegiatan seminar (dalam bahasa Jepangnya: Zemi  /ゼミ) ini dilakukan tiga kali dalam satu minggu.

Kemudian ada yang namanya seminar progress penelitian (進捗ゼミ). Ini bertujuan agar dosen tahu sampai sejauh mana hasil lab yang kita kerjakan. Dan kemarin, saat zemi, sensei bertanya, “Dalam perkembangan sistem rekomendasi rute (karena tema penelitianku tentang ini), “Masalah apa yang sekiranya bisa membuat dan membantu tugas manusia agar bisa mengendara lebih baik?”. Lalu aku pun berpendapat bahwa sistem navigasi yang ada saat ini, hanya dapat memberi rekomendasi rute yang tercepat, secara waktu dan efisiensi BBM. Sedangkan untuk faktor lainnya, seperti lebar jalan, banyaknya tikungan, ataupun pemandangan saat mengemudi, belum ada algoritma yang menghasilkan rekomendasi rute yang sempurna.

Source: Pixgood.com
Source: Pixgood.com

Continue reading “Carilah Sebuah Masalah, Lalu Pikirkan !”

Perkembangan Media Informasi

Seiring berkembangnya jaman yang semakin maju, sistem perangkat elektronik dan media komunikasi juga mengalami perkembangan pesat hingga sekarang. Dulu ketika saya masih kecil, mayoritas orang masih menulis dan mencatat sesuatu menggunakan alat tulis serta lembaran kertas. (Kebayang dulu berapa banyak buku catatan selama duduk di bangku sekolah. Haha.)

Namun sekarang, anak usia dibawah 5 tahun pun sudah di”kenal“kan dengan yang perangkat canggih, smartphone dan tablet, perangkat media elektronik yang seharusnya bukan menjadi kebutuhan mereka. Dan anak sd, sudah umum rasanya menggenggam blackberry ataupun iphone didalam kantong sakunya.

Tablet, laptop, smartphone, dan device canggih lainnya memang bukti bahwa manusia telah berhasil menciptakan penemuan-penemuan baru yang dapat men-support kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana tidak? Dalam satu genggaman smartphone saja, kita bisa mengakses informasi, baik berita langsung, streaming video, maupun berkomunikasi dengan orang lain. Tentu ini merupakan hal yang baik karena kita dapat mengetahui sesuatu hanya dari browsing di situs seperti google, wikipedia, bing, yahoo, dan situs terpercaya lainnya. Bukan hanya itu saja, kita juga mampu berkomunikasi jarak jauh, walaupun beda provinsi, negara, dan benua sekalipun menggunakan situs jejaring sosial dan aplikasi macam skype, line, bbm, etc. Dulu, informasi yang hanya dapat disebarkan melalui surat dan memakan waktu lama, kini hanya memerlukan beberapa detik bagi kita untuk mengakses segala sesuatunya.

Semua yang aku tulis diatas adalah dampak positif dari perkembangan media informasi dan perangkat elektronik. Tapi pernahkah kita merasakan dampak negatif dari semua itu?

Jujur, rasanya miris kalau melihat anak kecil tapi sudah pakai kacamata tebal dan pandangannya terfokus ke layar handphone ataupun gadget lainnya. Entah asyik nge-game ataupun ngelihat video kartun lainnya. Bukannya aku iri melihat mereka bisa menggenggam teknologi secanggih itu di umur yang kurang dari 5 tahun. Bukan. Justru miris.

11DISRUPTIONS-master675
While some tech parents assign limits based on time, others are much stricter about what their children are allowed to do with screens. Credit Jonathan Nackstrand/Agence France-Presse — Getty Images

Masih banyak hal diluar sana yang bisa mereka lakukan tanpa hanya terfokus pada satu layar. Di usia emas mereka layaknya dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi secara alamiah, gerak motorik, serta berkomunikasi dengan lingkungan sosial.

“So, your kids must love the iPad?” I asked Mr. Jobs, trying to change the subject. The company’s first tablet was just hitting the shelves. “They haven’t used it,” he told me. “We limit how much technology our kids use at home.”

Pernyataan diatas dikutip dari Steve Jobs perihal pengenalan media elektronik pada anak.(sumber:http://www.nytimes.com/2014/09/11/fashion/steve-jobs-apple-was-a-low-tech-parent.html?_r=1)

Well, ini memang cuma opini, gak ada bermaksud lain. Tulisan ini pun juga tercetus gara-gara pembahasan di kelas minggu lalu tentang dampak negatif media informasi dan perkembangan teknologi. Di permukaan layar, memang hal ini membantu kita dalam keseharian, tetapi dibelakangnya, masih banyak dampak negatifnya juga. Semua tergantung dari kita sendiri, mau menggunakannya tepat sesuai kebutuhan atau penggunaan yang salah dan tidak terfokus.

Kalau nanti punya anak, aku gak mau ngenalin perangkat ini-itu dulu. Biar belajar ngitung pake jari dan sempoa dulu, bukan kalkulator. Biarin dulu ngelukis pakai crayon dan kertas, bukan doodling di ipad. Dan yang terpenting, dia ngelihat orang tuanya secara langsung, bukan via skype atau line :’)

G.A