Algoritma Cinta

 
    Cinta adalah ketika hanya bayangnya yang terlukis di bola matamu, lalu kamu tersenyum sambil membenarkan kacamata hanya untuk menyembunyikan pipi merahmu. Wajah yang memerah bagai sakura yang bermekaran, lalu kamu tersipu malu sambil menggigit kecil bibir mungilmu itu. Dan adakah hal yang lebih indah dibanding menemukan orang yang hanya melihat dirimu satu-satunya didunia ini? Memang terlihat absurd, tapi itulah cinta, bukan untuk diartikan dengan sebaris bait, atau setebal buku puisi. Tapi hanya bisa diartikan melalui bahasa hati, bait perasaan tanpa logika.
     Cinta seperti sinar mentari, ketika buliran salju pertama itu turun diwajahmu. Hangat yang kau rasa karena sinar itu menerpa wajah pucat yang kedinginan kala itu, dan putih yang indah bagaikan hamparan gurun kapas tanpa batas, hanya putih dan bayangnya yang kamu pandang. Lalu disaat kamu tertawa sambil menatapi langit kebiruan kala senja itu, kamu mengambil sebilah cabang cemara dan mengukir namanya diatas salju, berharap Ia akan menemukan namanya lalu tersenyum menampilkan barisan gigi rapi yang jarang kamu lihat.
    Namun cinta adalah daun maple saat musim gugur di pertengahan September, kala hatimu hampa dan cinta itu mulai pudar. Kelopak kuning menari dibawah pohon, dan tak ada satupun yang peduli ia ada, tak ada yang tahu ia kecewa.  Cinta yang kedinginan karena tak ada yang peduli atau membalas. Atau cinta yang tersakiti karena sebuah pengkhianatan orang yang kamu cinta. Hati yang merasa terbuang, berubah kecoklatan tua, lalu mulai berguguran seiring musim gugur berlalu. 
     Lalu cinta yang tulus adalah sebuah kata maaf dari hati. Yang tak harus kamu paksa lidahmu untuk mengatakannya, dan tangisan sandiwara, karena cinta yang abadi bukan sebuah drama dengan skenario yang kamu tulis. Cinta akan kembali bermekaran ketika sebuah hati tidak dapat hidup tanpa menemukan kembali belahan jiwa yang pernah terluka, atau mencari lagi sebuah arti cinta pada kehidupan esok hari seiring bergantinya musim.
 sign

Kata Hati

 “Hargai mereka yang hadir, dan peduli tentang kita. Cintai mereka yang memberikan cintanya setulus hati, cintailah kembali tanpa kau tuntut apa-apa.” 
Karena diluar sana banyak yang tahu atau kenal siapa diri kita, tapi mungkin hanya sekedar nama, bukan perjalanan hidup yang kita jalani. Hargai arti sebuah rasa takut kehilangan, karena mungkin kita akan merasakanya setelah kita benar-benar kehilangan. Lalu apa yang bisa kita lakukan selain menyesal, lalu menyesal lagi? Jangan sampai kehilangan yang memberikan arti hadirnya seseorang dalam hidup kita. 
Tuhan mendewasakanku dengan cara yang lain, bertemu mereka yang “salah” terlebih dulu, agar aku mengerti yang “benar”. 
Tuhan memberiku pelajaran agar aku menghargai sebuah pertemuan, dan tidak terburu-buru mengucapkan selamat tinggal, walaupun kisahnya pahit.
Tuhan mendidikku dengan cara-Nya,  tentang arti cinta yang sesungguhnya, serta kasih yang tulus.
Jangan hidup dalam kisahku, karena kau mungkin akan pergi. Tapi hiduplah dengan mencintaiku, karena takkan pernah Tuhan membiarkanmu mencintaiku tanpa ada rencana indah dari-Nya. Berjanjilah kau akan menjadi tokoh lawan mainku, menemaniku sampai kisah ini berakhir. 
Dari sudut meja yang gelap – G.A