Ketika Rindu

  Semua berawal ketika waktu yang memilih. Ketika jarak yang sengaja melintasi batas, sehingga memisahkanku yang ingin melihat sesosok wajah yang selalu kunanti. Jika ditanya bagaimana hasrat hati ingin bertemu, lebih baik urungkanlah. Karena tak ada satupun di dunia ini yang mengerti bagaimana kidung sebuah sendu, atau hadir dari rasa ingin bertemu.

Dari kejauhan, 
ku titipkan sebuah hati
yang tak akan pernah kuminta kembali
hanya padamu, kekasih relung jiwa.
Dan aku hanya butuh satu kata kesetiaan

sudikah bila kau menjaga utuhnya dengan cinta?

  Sudah hampir 1 setengah tahun lamanya, kamar ini kuisi dengan setumpuk kertas memori. Dan selama itu pula rasa sepi itu selalu membayangi hampir di setiap mimpi malam hari. Bukan mengeluh, tapi ini adalah nyatanya bahwa aku disini sendiri. “Ketika rasa sepimu datang, apa yang kau lakukan?” Mungkin kau akan pergi keluar untuk berpergian bersama temanmu, makan diluar, atau sekedar bermain di taman. Tapi tidak disini, tidak begitu, dan bukan seperti yang kurasa.

  Lalu jika ada rasa rindu itu datang, haruskah sesak menumpuk di dada? Haruskah kutahan semua rasa dan berpura seakan tak ada apapun, lalu dengan bodohnya berkata: “Aku disini baik-baik saja.” Ataukah diutarakan walau mungkin dengan lisan yang salah. Termenung dan hanya menatapi bingkai pigura di sudut kasur. Tak jarang pula buliran air itu membasahi mata. Salahkah rasa ini? Salahkan bila ingin bertemu? Ingin memeluk erat kedua tangan yang dulu selalu ada untuk merangkul. Ingin melihat senyum simpul  yang selalu ada diwajahmu, walau ragamu letih.

   Kesendirian dan kesepian adalah satu. Mereka sama. Sebilamana keduanya pun hanya membuatku termenung, lalu terdiam. Hey, jika kamu tahu, ada seseorang disini.  Yang menanti penuh harap dan asa. Bahwa suatu saat kita bisa berpeluk mesra dalam abadi. Tanpa  batasan sebuah jarak, ataupun berjalan di sempitnya waktu. Semoga.

Rindu itu, bagai jeruji tak bersekat.

Padamu, kubagikan hangatnya lentera bulan, kala purnama itu datang.

sign

Algoritma Cinta

 
    Cinta adalah ketika hanya bayangnya yang terlukis di bola matamu, lalu kamu tersenyum sambil membenarkan kacamata hanya untuk menyembunyikan pipi merahmu. Wajah yang memerah bagai sakura yang bermekaran, lalu kamu tersipu malu sambil menggigit kecil bibir mungilmu itu. Dan adakah hal yang lebih indah dibanding menemukan orang yang hanya melihat dirimu satu-satunya didunia ini? Memang terlihat absurd, tapi itulah cinta, bukan untuk diartikan dengan sebaris bait, atau setebal buku puisi. Tapi hanya bisa diartikan melalui bahasa hati, bait perasaan tanpa logika.
     Cinta seperti sinar mentari, ketika buliran salju pertama itu turun diwajahmu. Hangat yang kau rasa karena sinar itu menerpa wajah pucat yang kedinginan kala itu, dan putih yang indah bagaikan hamparan gurun kapas tanpa batas, hanya putih dan bayangnya yang kamu pandang. Lalu disaat kamu tertawa sambil menatapi langit kebiruan kala senja itu, kamu mengambil sebilah cabang cemara dan mengukir namanya diatas salju, berharap Ia akan menemukan namanya lalu tersenyum menampilkan barisan gigi rapi yang jarang kamu lihat.
    Namun cinta adalah daun maple saat musim gugur di pertengahan September, kala hatimu hampa dan cinta itu mulai pudar. Kelopak kuning menari dibawah pohon, dan tak ada satupun yang peduli ia ada, tak ada yang tahu ia kecewa.  Cinta yang kedinginan karena tak ada yang peduli atau membalas. Atau cinta yang tersakiti karena sebuah pengkhianatan orang yang kamu cinta. Hati yang merasa terbuang, berubah kecoklatan tua, lalu mulai berguguran seiring musim gugur berlalu. 
     Lalu cinta yang tulus adalah sebuah kata maaf dari hati. Yang tak harus kamu paksa lidahmu untuk mengatakannya, dan tangisan sandiwara, karena cinta yang abadi bukan sebuah drama dengan skenario yang kamu tulis. Cinta akan kembali bermekaran ketika sebuah hati tidak dapat hidup tanpa menemukan kembali belahan jiwa yang pernah terluka, atau mencari lagi sebuah arti cinta pada kehidupan esok hari seiring bergantinya musim.
 sign

Kata Hati

 “Hargai mereka yang hadir, dan peduli tentang kita. Cintai mereka yang memberikan cintanya setulus hati, cintailah kembali tanpa kau tuntut apa-apa.” 
Karena diluar sana banyak yang tahu atau kenal siapa diri kita, tapi mungkin hanya sekedar nama, bukan perjalanan hidup yang kita jalani. Hargai arti sebuah rasa takut kehilangan, karena mungkin kita akan merasakanya setelah kita benar-benar kehilangan. Lalu apa yang bisa kita lakukan selain menyesal, lalu menyesal lagi? Jangan sampai kehilangan yang memberikan arti hadirnya seseorang dalam hidup kita. 
Tuhan mendewasakanku dengan cara yang lain, bertemu mereka yang “salah” terlebih dulu, agar aku mengerti yang “benar”. 
Tuhan memberiku pelajaran agar aku menghargai sebuah pertemuan, dan tidak terburu-buru mengucapkan selamat tinggal, walaupun kisahnya pahit.
Tuhan mendidikku dengan cara-Nya,  tentang arti cinta yang sesungguhnya, serta kasih yang tulus.
Jangan hidup dalam kisahku, karena kau mungkin akan pergi. Tapi hiduplah dengan mencintaiku, karena takkan pernah Tuhan membiarkanmu mencintaiku tanpa ada rencana indah dari-Nya. Berjanjilah kau akan menjadi tokoh lawan mainku, menemaniku sampai kisah ini berakhir. 
Dari sudut meja yang gelap – G.A