“You Can(‘t) Seat With Us”

Siapa kita, yang bisa bicara bahwa diri lebih baik dari mereka. Siapa kita, yang memilih lawan bicara, bungkam jika merasa ia tak pantas, pergi tak membekas dengan dagu ditopang keatas.

Tanah. Kita semua berasal dari tanah, dimana semua kehidupan terlahir disana. Lalu dititipkan sebuah ruh, yang menjadikannya jiwa dalam raga, yang disebut manusia. Kita semua adalah sama, memiliki susunan rangka, jiwa, akal, dan hati. Lalu dengan perbedaan genetik turunan, lingkungan, sifat asal, terciptalah sebuah individu yang berbeda antara satu dan lainnya. Dengan kata lain, sebuah perbedaan akan semakin terlihat jelas seiring waktu serta perubahan disekeliling kita. Menurut saya, sebuah perubahan itu bersifat fleksibel, menyesuaikan dengan alam sekeliling kita.

Bagai partikel angin, mengalir melalui celah ke tempat bertekanan rendah.

Atau air, mengalir mengikuti bentuk dimensi nyata. Continue reading ““You Can(‘t) Seat With Us””

TIME TO CHANGE: Things will be better when we don’t care too much.

Tak perlu memberi tahu seberapa hebat dirimu, atau apa yang bisa kamu lakukan. Karena orang yang menyayangimu tak membutuhkan itu. Dan orang yang membenci, akan terus mencaci tanpa menghiraukan kebaikanmu.

Suatu ketika, aku pernah membaca sepenggal quotes yang berisi kurang lebih sama dengan yang tertulis di atas, lalu terdiam sejenak lalu berpikir. “Benar juga ya.. di dunia ini, bisa dikatakan hampir mustahil jika kita berharap semua orang berada di pihak kita dan melihat dari kacamata yang sama.”, gumamku.

Setiap individu berhak menyukai, membenci, dan mencinta berdasarkan pandangan mereka masing-masing. Kita tidak bisa mengontrol apa yang ada dalam pikiran mereka. Dan menerka, hanya akan membuat kita tersiksa, bahkan bisa menimbulkan sakit hati. Kita juga tidak punya wewenang untuk menutup mulut orang lain atau melarangnya untuk bicara. Biarkan saja mereka berkata apa yang ingin mereka katakan, toh hukum alam mengenai karma itu pasti ada, dan aku percaya itu.

Adalah lebih penting jika kita memfokuskan semua pada diri sendiri, bagaimana cara mengontrol pikiran agar tetap mengacu pada tujuan awal. Jangan biarkan lingkungan merubah diri kita, atau ucapan orang lain membuat kita terus kepikiran. Bahagia, adalah kata kuncinya.

Ada saatnya kita diam.

Menutup semua pandangan tentang dunia, walau kita tidak buta.

Ada baiknya kaki ini terus melangkah.

Tanpa henti, walau mungkin lelah untuk menopang semua penat dada.

Ada benarnya menghapus memori, setelah memaafkan.

Memaknai semua lembar baru dengan warna berbeda.

sign

Kegagalan Sebagai Awal

Ga ada satupun manusia di bumi ini yang selama hidupnya ga pernah mengalami suatu kegagalan. Dan ga ada pula satu orang pun yang kebal rasa sakit, saat yang diharapkan ternyata meleset dari jalan pikiran. Iya. Aku, kamu, kita, semua pasti pernah gagal, entah itu menyangkut hal sepele atau besar, tentang pelajaran atau roman, dan tentang mimpi di masa depan.

Seiring waktu berjalan, aku menyadari bahwa kehidupan dimulai saat kita belajar mengenal suatu kegagalan, bukan sebagai hal yang harus ditakuti atau dihindari. Namun sebaliknya, anggaplah itu sebagai batu lompatan dan pembelajaran untuk berbuat lebih baik. Sakit saat terjatuh, membuat kita lebih berhati-hati melangkah. Rasa kecewa mengajarkan kita agar tidak berharap berlebih, terutama pada manusia. Dan penyesalan membuat kita berpikir lebih bijak sebelum mengambil keputusan.

Hidup ini penuh pembelajaran. Dan Tuhan memberi kita kesempatan berkali-kali untuk mencoba, sebelum akhirnya kita berhasil meraihnya. Yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan tujuan dan keinginan awal, semua bisa diusahakan selama kita masih mau mencoba.

Tahu kisah Thomas Alva Edison? Menghabiskan total hampir 6000 bahan, beliau menghadapi puluhan-bahkan ratusan kali eksperimen gagal sebelum bohlam berhasil diciptakan. Begitu juga dengan para penemu ilmiah lain, hampir mustahil ada yang dapat berhasil menemukan hal baru tanpa disertai kegagalan sebelumnya.

Satu hal yang bisa aku simpulkan disini, “Gagal, kegagalan” bukan saat kita tidak mendapat apa yang kita harapkan, tapi kegagalan sesungguhnya adalah disaat kita kehilangan tujuan awal, sinar harapan dan kepercayaan diri, bahwa kelak semua akan berhasil terwujud.

sign

Gelas Kaca

Well. I’m not good at this things, talking wisely about life because I know there are still many things or problems that haven’t be solved, yet. Tapi setidaknya, semua masalah akan menjadi lebih baik jika kita tidak memandang hanya dari satu sisi saja. Bukalah kedua mata, ambil perspektif lain untuk dapat melihat di sisi baik lainnya.

Sebuah kejadian mengandung makna dibalik semuanya. Anggap saja sebuah gelas kaca yang berisi air setengahnya. Semua tergantung kita, mau melihat dari sisi atas, tengah, atau bawah. Jika yang dilihat hanyalah tampak atas, mungkin kita akan menemukan gelas yang berisi air penuh. Di sisi lain, ketika memandang dari tampak samping, kita melihatnya sebagai gelas yang berisi air setengah. Terakhir, kita melihat dari sudut bawah, dan akan beranggapan bahwa hanya sedikit air yang terisi dalam gelas kaca tersebut. Dengan objek yang sama, kita dapat menyimpulkannya dalam tiga arti yang berbeda, bahkan lebih.

Ya, semua tergantung dari sudut mana kita melihat. 

Continue reading “Gelas Kaca”

島の想い

つい最近、良い人や面白い仲間に囲まれて、本当に良かった。普段笑わない私は、一瞬変わったように、楽しい日々を過ごした。日本語があまりできないし、論文読むことが苦手わ勉強にいつも応援を頂き、何でも何回も相談した。遊びにもよく付き合ってて、忘れられない日々になった。一緒に居たい。もう少しい時間を伸ばしたいなぁって思ってる。繰り返すと、素敵な一年間であり、

今は悲しい。

心は寂しい。

…だと、ずっと心の中に思い込んでいる。でも、みんなの歩んで行く道はそれぞれ違うだろう。私とあなた、今は同じ場所にいるけど、いつかここから離れる。そして、手を降って前に向かって進んでいく。その時、「また会おう!」と約束する。

そう。出会いがあれば、別れの時もきっとくるだろう。だから、誰かと付き合っている内に、できれば、たくさんたくさんの良い思い出を作ろう。記憶に残し、いつかその瞬間を思い出したら、笑う、それとも、涙が出る。

日間賀島の朝 

いや、「さよなら」っていうのじゃない。

私たちは、明日じゃなくても、また別の日に

違うところで、きっと逢うでしょう?

sign

Di 52 Tahun Lalu

Hanya waktu yang mengajariku, mengenai cinta sejati, arti kasih sesungguhnya.

Bukan belaian ketika terjatuh, bukan pula pujian ketika aku bersalah.

Lalu mengajarkan untuk melompat, bukan batu yang disingkirkan agar tak tersandung.

Namun dekapan itu seolah mengatakan, “Tak akan ada yang lebih mencintaimu selebih cintaku padamu. Dan takkan ada yang menggantikan, hangat peluk seorang Ibu”

Hanya ingatan yang kuputar kembali di usia dua puluh tiga-ku, dalam tahun ke lima puluh dua dalam hidupmu.

Tentang nyaman dalam peluk, serta indah senyuman di hari itu.

Selamat hari ulang tahun, Mama. Doa kupinta dalam sujudku pada-Nya.

_MG_5616.jpg

Salam hangat dari kejauhan beribu jarak..

sign

Achievements or Child?

      Dear girls, it’s true that we have to study at formal education as high as possible. But when we achieved high education through formal education, it doesn’t mean that we have to work/get a job by 24hrs a day to get money and achievements. The main is: with our knowledge, we teach our child. Read this below article, (which was written by Suara Pembaruan), and find out that as a girl/woman/mother, we have to take care of children’s future, not job/money/achievements as the most important thing in life.
From Flickr
From Flickr

Continue reading “Achievements or Child?”

339

Seperti ketika ini terjatuh

Lalu hitam, seperti kubangan luka

Besit di benakku tak mampu menahan lagi

Atau perih.

Entah apa yang membuat mataku mengalir.

Bukan lalu tawa di perhantaran malam.

Biarlah sejenak kusenandungkan riak perih.

Biarlah sejenak kudendangkan raungan kedap suaraku.

Kemudian terlelap pada pelukan duri.

dan bangun pada permulaan senja.

 -G.A

Why so ‘Drama’?

I think, when people come up to me to ask questions about their problems, I see unsatisfied faces. It’s because they expected an answer full of complexity, which would signify the complexity of life too, which justifies having problems. But they don’t get that from me. My answers are always very simple and straightforward. And that exactly is the key to a happy life. Humans tend to complicate things because it feels easier when there is something to blame on. Don’t.
This statement I got from another blog. Sometimes, I feel when people asked questions about their problems, they don’t really meant to get our opinion or advice. They just need somebody to listen about it, or want to hear the same answer that they’re thinking of. That’s why when I gave my opinion about problem-solving, they might be think: “Why the answer is just so simple?” or “Why don’t you think how hard it is for me.” or “Because you were not me, so you don’t have to care, right?” Oh dude, let me give you an explanation. Listen, if we can solve all problems with positive mind, why do we need to put some ‘Drama’ things on that? Why we have to turns something unimportant into a major deal. We life in reality, and we are not a character on drama. 
-G.A

New Chapter

1 April 2015. Aku kembali lagi ke Jepang untuk melanjutkan program Master, melanjutkan studi-ku di salah satu Universitas di Jepang, University of Electronics and Communication dengan jurusan Sistem Media Informasi.

Tidak jauh berbeda dengan jurusanku saat S1 lalu Electronics and Information Systems, tapi kali ini lebih difokuskan tentang hubungan antar pengguna (user) yang dititikberatkan pada manusia dan media, yang dapat dikatakan sistem mesin atau robot. Penelitianku dulu lebih terfokus pada internet security system, pemecahan coding dan pencegahan penyadapan, serta pengolahan bit pada gambar.

Kali ini penelitianku terfokus pada penggunaan AI (Artificial Intelligence). Sedikit penjelasan,  AI adalah kecerdasan buatan, dimana kita sebagai pencipta (programmer), mendesain sebuah mesin cerdas (aplikasi, robot) yang bisa “berfikir” layaknya manusia pada umumnya. Continue reading “New Chapter”