Sampai di Pertengahan

Seperti judul postingan diatas, kali ini saya mau cerita tentang perjalanan 2017 hingga setengah tahun ini. Yup, there were lot of differences, and things that changed in this year.

IMG_2277

MARCH/APRIL

Terhitung 20 Maret 2017, saya lulus sebagai Master of Engineering dan mendapat ipk yang Alhamdulillah bisa dibanggakan. I past exams, did presentation and symposium to published my paper on national symposium in Japan. And, I got an award for the best research at Fuzzy System Symposium 2017, Nagoya. Well. That’s all about the good part, but the problem started here.. when I had to choose my next step; saya bingung menentukan jalan yang harus saya pilih, bekerja atau melanjutkan pendidikan. Di luar atau di dalam negeri. Pada tahun ini, atau tahun depan. And, bla..bla..bla..

Keputusan yang gak gampang untuk diambil, karena dibalik cita-cita saya yang ingin melanjutkan sekolah, ada juga keinginan untuk kembali ke tanah air. Bukan karena saya gak betah tinggal di Jepang, tapi sebaliknya, saya ingin mengecap sistem pendidikan Indonesia, yang hanya bisa saya rasakan sampai SMA.

“Dalam merubah sesuatu, kamu harus tahu hingga akarnya. Menjadi salah satu bagiannya. Dan berkontribusi dalam memperbaiki pondisinya (yang lemah).” Guru saya berujar. Lalu, jika saya ingin menjadi salah satu ‘aktor’ untuk merubah sistem pendidikan tanah air, apakah saya harus mengikuti semua prosedur, belajar dan mengerti tentang ‘budaya’ pendidikan kita? Yang saya rasa kurang ‘mengajarkan’ pada siswa sendiri, tentang apa itu makna pendidikan.

MOS? Really? Masih ada sistem pembullyan di sekolah? Atau kuncir kepang 3 rambut bagi wanita? 6 Tahun saya sekolah disini, satu-satunya MOS yang saya lewati adalah tahap pengenalan kampus, bagaimana registrasi, dan pengenalan lab.

Saya masih kurang paham dan setuju tentang senioritas dalam bidang pendidikan. I mean, “Siapa lo nyuruh-nyuruh gue ini itu?” This is not a part untuk menjadikan siswa berprestasi. Yang ada, siswa makin frustasi. Dan siapa yang bisa belajar dalam kondisi seperti ini?

Belajar itu membutuhkan lingkungan yang kondusif.

Ayolah, sejenak berpikir cerdas. Indonesia gak akan bisa maju dengan sistem pendidikan seperti ini. Dimana orang-orang gila pangkat, gila dipuja, gila senioritas, dan gila dalam hal lainnya. Banyak orang yang lupa sistem hukum karma. Kalau kita nge-bully orang, bayangin suatu hari anak kita yang dijadiin babu oleh seniornya. Itu yang kalian mau?

Negara kita gak akan paham, kenapa banyak orang yang memilih keluar negeri. Suatu saat, ketika saya kembali ke tanah air, saya mungkin akan kehilangan segalanya. Kehilangan fasilitas lengkap, komputer high-specs, all kind of sensors untuk merakit robot, lingkungan sekolah dan pembimbing kampus yang super kooperatif. Bukan dosen yang ingkar janji yang selalu pengen dikejar-kejar murid bak dirinya artis yang penuh jam terbang. Serta dana penelitian yang jarang diberi tepat waktu, atau fasilitas yang diperlukan tidak dapat disupport sekolah. WOW!

Janji saya sebelum langkah pertama menginjakkan Jepang 2010 adalah bahwa saya kembali dengan membawa perubahan untuk tanah air. Dan bagaimana saya bisa memberi kontribusi jika ilmu saya hanya setengah? I need to learn more than this.

Oleh karena itu, keputusan yang berat; yaitu melanjutkan Doctoral Program di Jepang, menjadi pilihan akhir. Selama saya mampu, selagi saya bisa berpikir, dan ketika keluarga dan sekolah mendukung, InsyaAllah jalan saya tidak terputus sampai disini.

MAY/JUNE

Ketika dilemma mulai menghantui, and anything seems went wrong. Entah kenapa di permulaan Mei, segala hal menjadi berat. Mulai dari saya harus meninggalkan suami sekolah, menjabat sebagai asisten dosen dan diharuskan mengajar kelas, target untuk menerbitkan paper yang dikejar-kejar hingga akhirnya ditolak, mulai berhijab lalu mendapat perlakuan yang gak enak dari orang lokal, dan banyak hal lainnya yang menguras hati dan pikiran. Ada satu waktu, dimana saya berpikir dan flashback tentang apa yang telah saya raih, dan apa yang menjadi target saya. For the truth, I’m feeling overwhelmed.

And I know, It’s time to take rest.

Saya mungkin tidak harus memaksakan kondisi. Jika lelah itu datang, alangkah baiknya untuk rehat. Ketika sedih, mungkin waktunya untuk diam sejenak. Ketika hilang arah, mungkin saatnya untuk kembali mengingat  tujuan awal..

Dimana harapan terlihat nyata. 

Lalu mimpi tergambar sempurna.

Namun yang terpenting adalah, jangan pernah berhenti. It’s okay to take holiday, or quit for a while, tapi ingatlah tujuan awal. Bagaimana bisa merubah pola pendidikan satu negara jika niat saja sudah tinggal setengah (#reminder). NKRI punya kita, bukan saya atau kamu saja, tapi  punya mereka juga. Dan bagaimana negara ini bisa maju, kalau generasi yang berjuang, hanya cuma sepersekian penduduk negara?


Tulisan ini gak bermaksud apa-apa, selain curhatan rasa lelah dan pengingat bahwa tujuan akhir saya belum selesai. Kalau ada yang kurang berkenan, please remember, this is my blog. Kalian boleh baca post ini, or just don’t visit my page, leave it. Karena disini saya bebas menumpahkan ide dan pikiran dalam sebuah tulisan. Kalian bisa melihat sisi postitive/negative tergantung dari sudut pandang masing-masing. Jika yang ingin berjuang bersama, mari kita berpartisipasi, memberi andil yang positif untuk negara kita, merubahnya dari akar dan sistem dasar. Bagi yang bilang ini cuma curhatan omong kosong, I don’t blame you. Hak setiap orang untuk berkumandang, dan negara kita ini menganut sistem demokrasi, dimana setiap orang berhak untuk bersuara 🙂

sign

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s