“You Can(‘t) Seat With Us”

Siapa kita, yang bisa bicara bahwa diri lebih baik dari mereka. Siapa kita, yang memilih lawan bicara, bungkam jika merasa ia tak pantas, pergi tak membekas dengan dagu ditopang keatas.

Tanah. Kita semua berasal dari tanah, dimana semua kehidupan terlahir disana. Lalu dititipkan sebuah ruh, yang menjadikannya jiwa dalam raga, yang disebut manusia. Kita semua adalah sama, memiliki susunan rangka, jiwa, akal, dan hati. Lalu dengan perbedaan genetik turunan, lingkungan, sifat asal, terciptalah sebuah individu yang berbeda antara satu dan lainnya. Dengan kata lain, sebuah perbedaan akan semakin terlihat jelas seiring waktu serta perubahan disekeliling kita. Menurut saya, sebuah perubahan itu bersifat fleksibel, menyesuaikan dengan alam sekeliling kita.

Bagai partikel angin, mengalir melalui celah ke tempat bertekanan rendah.

Atau air, mengalir mengikuti bentuk dimensi nyata.

Kalau kita perhatikan, diri kita sekarang merupakan hasil dari adaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan, yang dialami dari kecil hingga saat ini. Walau sebenarnya tiap individu memiliki sifat dasar, namun faktor luar dapat dikatakan cukup berpengaruh dalam pembentukan sebuah  karakter. Oleh karena itu, jika kita ingin seseorang melakukan sesuatu untuk kita, atau ingin merubah sifat seseorang, beri contoh terlebih dahulu kepada mereka. Misal, jika ingin memotivasi seseorang untuk lebih giat dalam belajar, maka terlebih dahulu kita harus memberi contoh belajar yang baik, dengan mendapatkan nilai tinggi dalam ujian. Dan berlaku dalam hal lainnya yang lebih general.

Sifat perubahan itu sendiri dapat dikategorikan dalam tipe reversible dan irreversible. Kebanyakan, perubahan yang dipengaruhi dari faktor luar merupakan perubahan yang bersifat reversible, yaitu dapat kembali lagi ke awal jika tidak lagi dipengaruhi faktor luar tersebut atau terjadi rotasi lingkungan baru. Bahasa kasarnya sih, kalau perubahan itu terjadi karena suatu paksaan, kemungkinan akan kembali pada kondisi awal sangatlah tinggi. Namun sebaliknya, jika perubahan itu terjadi karena keinginan dan kesadaran diri, maka dapat bersifat irreversible.

Kembali lagi pada paragraf satu. Dimana saya gambarkan seseorang yang menganggap dirinya “special” dan tidak mau berbaur dengan orang baru. Lucunya, kejadian ini sering sekali saya alami. Dibedakan karena ras (if you think that Japanese aren’t racist, then you’re totally wrong), karena perbedaan status sosial (bcs i’m not that famous person, neither have million IG followers), or maybe because of another factors(?) Entahlah. Saya awalnya kaget ternyata istilah “You cant’t seat with us” itu ternyata memang ada, dan bukan hanya berlaku di Barat sana. Menjadi yang terasing, ditinggalkan, dikucilkan itu paiittttttttt banget, tapi memberi pelajaran juga supaya kita tidak melakukan hal yang serupa.

Toh kita semua sama. 

Sama-sama diciptakan dari tanah, baliknya nanti juga ke tanah, bukan?

sign

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s