Automation Dilema

Seiring dengan perkembangan teknologi, belakangan ini, hampir semua sistem disertai dengan fitur “Auto“, yang berarti mesin akan mengambil alih kerja yang harusnya dilakukan oleh manusia. Contoh umum adalah Automation system pada mobil, yang membantu para pengemudi untuk mengendarai mobilnya dengan mudah, tanpa harus menginjak pedal kopling. Atau, Automation system pada pesawat terbang, yang dapat mengontrol laju cepat, arah dan ketinggian pesawat secara otomatis. Tak hanya itu, banyak sekali contoh lain disekeliling kita dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam menggunakan Smartphone, kamera, serta teknologi lainnya.

Sekarang kita hidup di jaman dimana hampir semua sistem diciptakan untuk “memudahkan” tugas para penggunanya. Jika dilihat dari satu sisi, tentu saja hal ini membawa dampak yang sangat baik, karena dapat membantu manusia mengerjakan segala sesuatu menjadi lebih mudah. tak hanya itu, efisiensi pengerjaan tugas menjadi meningkat, dan wakktu yang digunakan menjadi lebih singkat. Dengan adanya Automation system ini, kita gak perlu ambil pusing dan bersusah payah untuk mengerjakan sesuatu secara manual.

Dimana system yang mengerjakan tugas, dan manusia hanya menjadi pengamat.

Namun, apakah Automation system ini selalu berdampak baik? Tentu saja tidak. Akan selalu ada pro-kontra, plus-minus, dalam penciptaan hal baru. Efek negatif yang diciptakan atau terlahir dari sebuah proses otomatisasi, disebut Automation dilema.

Saya mau ambil contoh Automation braking system pada mobil. Jadi, hampir semua mobil kini diciptakan dengan fitur automation braking, sehingga mobil akan berhenti/rem dengan sendiri, tanpa harus kita pijak pedal rem. Bagaimana caranya? Dengan membaca output dari sensor yang dipasang pada sisi mobil, dan dikontrol melalui sistem komputer. Sensor tersebut umumnya sensor jarak, dan kamera yang dipasang pada bagian depan dan belakang mobil.

Automation braking system ini sangat dibanggakan karena dapat membantu mengurangi angka kecelakaan lalu lintas. Dengan adanya automation braking pada mobil, pengemudi tak perlu khawatir jika tiba-tiba ada penyebrang, mobil lain di depannya karena mobil akan secara otomatis berhanti jika ada object yang terdeteksi oleh sensor. Bahkan, dalam kondisi mengantuk pun, para pengemudi dapat mengendarai mobil secara aman.

Apakah benar seperti itu pada kenyataannya?

Tidak. Automation braking system sebenarnya masih dalam tahap pengembangan dan peningkatan nilai accuracy nya. Karena, output yang dihasilkan dan dibaca oleh sensor jarak dan kamera, tidaklah 100% benar. Dalam kondisi cuaca buruk, hujan, atau kabur, sensor tidak dapat mendeteksi object dan jarak secara baik. Sebaliknya, hal ini dapat membahayakan pengemudi bila tiba-tiba mobil nge-rem mendadak di jalan, atau tidak berhenti pada waktu dan tempat seharusnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kecelakaan gara-gara  Automation braking system ini? Apakah pihak engineer yang merancang mobil, atau pengemudi mobil sebenarnya? Hal ini masih dalam perdebatan, ditambah lagi masalah asuransi mobil jika hal ini terjadi.

Automation Dilema. Merupakan salah satu hal yang dibahas dalam perancangan Automation system. Dalam thesis penelitian yang pernah saya baca (link: Automation Dilema), terdapat dua jenis Automation dilema, yaitu Misuse dan Disuse. Misuse, adalah kondisi dimana sistem mengambil alih seluruh pekerjaan, yang harusnya dilakukan oleh manusia. Sedangkan Disuse adalah kondisi dimana manusia mengerjakan tugas secara manual tanpa ada bantuan sistem Automation, sehingga berdampak efisiensi pengerjaan yang menurun.

Agar tidak terjadi Misuse dan Disuse, dibutuhkan keseimbangan antara auto dan manual dalam sebuah system. Jika system mengambil alih seluruhnya menyelesaikan tugas yang harusnya dikerjakan manusia, maka akan terjadi kecenderungan bergantung pada system untuk menyelesaikan tugas tersebut sepenuhnya. Sedangkan jika sewaktu-waktu terjadi kerusakan atau error, maka tugas manusia menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya. Karena untuk membenarkan kerusakan pada sistem auto akan menjadi lebih sulit dibanding sistem manual. Dan manusia menjadi tidak terbiasa melakukan sesuatu secara manual, atau mengalami kemunduran secara intelegensi.

Di sisi lain, ada saat manusia membutuhkan support dari auto system dimana ketika pengetahuan dan skill mereka belum cukup untuk melakukan pekerjaan. Jika user dipaksa untuk melakukan secara manual, akan terjadi penurunan efisiensi hasil kerja, serta waktu yang digunakan menjadi lebih lama.

That’s why, everything in life needs a balance.

***

Sampai saat ini, saya mengerjakan penelitian yang berkaitan mengenai keseimbangan auto-manual dalam sebuah system. Tentang bagaimana support system itu bekerja tanpa membuat manusia “manja“. Serta bagaimana cara mensupport yang baik, membuat user menjadi belajar dan mengalami peningkatan dalam bidang bengetahuan dan kemampuan. Support system ini saya implementasikan dalam kamera (aplikasi kamera), dimana system akan memberi support auto berdasarkan skill yang diekstrak dari hasil beberapa foto yang diambil user sebelumnya. System yang saya bangun dapat dikatakan based on Artificial Intelligence, dimana dalam salah satu part, saya menggunakan CNN(Deep Learning) dalam proses Image recognition. And I still work on it, so I’ll explain about this system later, maybe right after I finish my last thesis.

sign

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s