Kita Bukan Tuhan

 Terlalu mudah bagi kita untuk menilai seseorang. Tanpa tahu latar belakang, tanpa peduli kebaikan apa yang pernah ia lakukan. Dan kadang, terlalu lancang lidah kita melafalkan kata. Mengunjing apa yang bukan fakta, dan mungkin berujung fitnah.

 Khatam, walau sudah dua kali saya menamatkan membaca kitab suci Al-Qur’an, saya mengaku masih banyak ilmu serta pemahaman yang belum saya mengerti sepenuhnya tentang kitab suci, tentang Islam. Yang saya tahu, semua agama mengajarkan kita sepenuhnya untuk melakukan tindakan baik. Menjauhi larangan, dan perbuatan buruk karena akan membawa petaka bagi kita dan orang lain. Dan Islam, melalui Nabi Muhammad SAW, Allah SWT menurunkan wahyu-Nya lalu kemudian dibukukan menjadi sebuah kitab, sebagai penyempurna ajaran agama terdahulu, dan juga sebagai panduan manusia melangkah dalam kehidupan dunia dan akhirat. Kitab tersebut adalah Al-Qur’an, tak ada yang lain.

 Allah SWT. menciptakan Al-Qur’an sebagai ‘pemandu jalan’, kitab suci yang berisi seluruh petunjuk agar umat tidak tersesat dalam memilih dan melangkah. Karena tanpa aturan, kehidupan makhluk di dunia akan mengalami kemunduran. Moral dan mental. Semua akan semena-mena. Yang berkuasa akan menindas, dan yang lemah mulai mati perlahan.

Sebegitu sakralnya Al-Quran dalam hidup kita. Lalu, apakah pantas kitab suci dijadikaan alat dalam berpolitisi? Apa diperbolehkan menjadi alat untuk menyerang dan menjatuhkan pihak lain? 

 Kita hidup di jaman, dimana semua orang merasa bahwa dirinya ‘Tuhan’. Menghujat, men’judge’, memfitnah. Yang bahkan Tuhan tak pernah lakukan kepada kita, umat-Nya. Begitu licin lidah kita untuk mengatakan bahwa pemimpin kafir tak pantas dipilih. Dan begitu hebatnya kita mengatakan bahwa seseorang itu kafir. Serta, begitu picik, orang yang memutar kata hingga menjadi sebuah fitnah, dengan membawa nama Al-Quran.

Ngomong ngomong, dasar seseorang dikatakan kafir itu apa ya?

***

 Saya pikir, generasi kita adalah generasi cerdas. Sangat mengalami kemajuan pesat dalam segi ilmu pendidikan, kesejahteraan negara, jika dibanding Jepang yang mengalami stagnansi dalam perekonomian. Namun beberapa waktu belakangan ini, Facebook saya penuh, dengan postingan mengenai Ahok, yang dilengkapi dengan kalimat provokasi membawa-bawa nama agama.

 Jika hanya di’suguhkan’ potongan video yang hanya berdurasi beberapa detik. Mungkin dapat menimbulkan berbagai macam arti, saat Ahok mengatakan, “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pake Surat Almaidah 51 macem-macem itu.”

 Tapi tolong lihat video secara keseluruhan. Dan telaah dengan baik frasa kalimat pernyataan Ahok tersebut.

“Saya masih Gubernur sampai Oktober 2017 bapak ibu. Masih sempat panen. Jadi Bapak-Ibu gak usah khawatir, ini pemilihan kan dimajuin, jadi kalo saya ga terpilih pun, Bapak-Ibu, saya berhentinya Oktober 2017. Jadi kalo program ini kita jalankan dengan baik, Bapak-Ibu masih sempat panen sama saya. Sekalipun saya tidak terpilih sebagai Gubernur.”

Jadi saya cerita ini supaya Bapak-Ibu semangat. Gak usah kepikiran ‘Ah nanti kalau gak kepilih, pasti Ahok programnya bubar. Enggak. Saya sampai Oktober 2017. Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil Bapak-Ibu gak bisa pilih saya, karena dibohongin pake Surat Almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak Bapak-Ibu ya.

Jadi kalau Bapak-Ibu perasaan gak bisa pilih nih, karena takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak apapa. Karena ini kan panggilan pribadi Bapak-Ibu. Program ini jalan saja. Jadi, Bapak-Ibu gak usah merasa gak enak. Dalam nuraninya gak bisa pilih Ahok. “Gak suka sama Ahok nih, tapi programnya kalo gue terima gak enak dong gue hutang budi”, Jangan!

Bapak ibu punya perasaan gak enak nanti mati pelan-pelan lho, kena stroke. Jadi angg….bukan anggap, ini semua adalah hak bapak ibu sebagai warga DKI, kebetulan saya Gubernur punya program ini. Jadi tidak ada hubungannya dengan Bapak-Ibu mau pilih siapa ya.

Saya kira itu. Kalau yang benci sama saya, jangan emosi terus dicolok, waktu pemilihan colok foto saya, wah, jadi kepilih lagi saya. Hahaha. Kalau benci sama saya colok berkali-kali, baru batal. Tapi kalau cuma colok sekali, kepilih lagi dong. Saya kira itu, silahkan yang mau tanya,”

***

  1. Dibohongi Surah Al-Ma’idah.
  2. Dibohongi pake Surah Al-Ma’idah

 Apakah frasa nomor 1 dan 2 memiliki arti yang sama? Menurut saya tidak. Pada frasa pertama, “Dibohongi Surah Al-Ma’idah” berarti bahwa Ahok telah melecehkan surah Allah  SWT. dengan mengatakan bahwa Surah Al-Ma’idah adalah suatu kebohongan. Unreal, atau tidak nyata. Namun, kalimat “Dibohongi pake Surah Al-Ma’idah”, memiliki arti bahwa ada oknum yang memanfaatkan ayat suci, sebagai alat untuk membohongi agar tidak memilih Ahok kembali.

 Faktanya, agama merupakan privasi setiap umat, dan merupakan hal yang sensitif untuk dibahas. Oleh karena itu, menurut saya, alangkah baiknya Ahok juga tidak menyinggung dan membawa konteks agama dalam kampanye politiknya. Sebaliknya, kita sebagai masyarakat umum, baiknya tidak langsung menghakimi dengan satu kacamata saja. Lihatlah dari berbagai sisi dan pahami betul arti kalimatnya.

Tidak ada asap tanpa api. Namun pantaskah kita juga menghujat dan menghina Ahok secara berlebihan?

Tunjukkan ajaran Islam itu mulia, tunjukkan bahwa mulim sejati meng”kritik” dengan wawasan dan bersikap bijak. Bukan makian dan kata-kata kasar.

Semoga ini pembelajaran bagi kita semua. Mohon maaf sebelumnya, saya menyampaikan ‘unek-unek’ ini, bukan bermaksud membela salah satu pihak, atau sebagainya. Saya harap, pada case ini, pandanglah dari seluruh sisi, tanpa ada sudut mati, atau hanya ingin mencari kambing hitam saja.

sign

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s