Asking, Judging, Repeat.

Memasukki minggu kedua di bulan Ramadhan, dan itu berarti tinggal 2 minggu lagi sebelum pertanyaan-pertanyaan dengan frekuensi melebihi 20kHz bermunculan. Yang anehnya, pertanyaan ini sangat sering ditanyakan oleh orang yang mungkin kita ga kenal, atau hanya pernah bertemu sekali-dua kali saja.

We need “filters” to our ears.

“Kapan nyusul? Kapan marriednya? Udah umur berapa lho, masa ga nikah-nikah?”. Ini  adalah contoh pertanyaan yang sering diluncurkan kepada pasangan yang pacaran udah lama tapi belum juga mengambil keputusan buat menikah. Atau kepada mereka yang sudah menikah tak jarang mendapat pertanyaan, “Udah isi belum? Kamu udah hamil? Anaknya laki-laki atau perempuan?”, dengan santainya meluncurkan pertanyaan klise hanya untuk sekedar berbasa-basi tanpa memikirkan perasaan orang yang ditanya. Terlebih saat berkumpul bersama saat momen hari raya, hari dimana kita saling bercakap tentang hal baik di hari yang mulia.

Memutuskan untuk menikah, bukan hal yang mudah, seperti membalik telapak tangan.

Dan dikaruniai seorang anak, bukan seperti membuat kue, tinggal campur adonan, kemudian langsung jadi.

Tidak adakah pertanyaan lain yang lebih bermanfaat, dibanding sekedar menanyakan hal yang mungkin menggores hati orang lain. Terlebih, kebanyakan orang menanyakan hal tersebut kepada kita, untuk kemudian dijadikan bahan obrolan dengan orang lain. Biar ga kehabisan bahan omongan, katanya.

Menikah muda merupakan keputusan yang mulia, baik dalam pandangan agama dan demi menghindari fitnah. Namun, pernikahan tanpa dilandasi kekyakinan yang kuat, tak akan berjalan dengan baik. Serta pertimbangan lain, seperti pandangan kontra dari pihak keluarga, masalah sosial serta materi, juga membuat kita harus memikirkan secara matang tentang arti pernikahan. Namun, jika hal tersebut semua telah dapat kita atasi, akankah lebih baik jika disegerakan untuk menikah.

Mungkin perbedaan pandangan yang membuat pertanyaan itu bermunculan. Jaman dahulu misalnya, tak sedikit jumlah perempuan yang menikah saat berumur 12-20 tahun, dan pria menikah ketika berumur 23-27 tahun. Bandingkan dengan tahun 2016, rata-rata usia menikah pria-wanita semakin meningkat. Entah karena alasan “ingin meniti karier dulu”, “ingin belajar dulu”, dan lainnya. Jadi tak heran, kalau ibu-ibu tetangga suka bertanya kalau ada anak tetangganya yang belum nikah atau punya anak.

Dan budaya “bertanya” ini kian berlanjut hingga kadang kita hanya bisa diam untuk menjawab semuanya. People will ask and judge you, no matter what you do. Sebaik-baik dan sesempurnanya Nabi Muhammad SAW-pun masih ada yang membenci beliau saat berdakwah menyebarkan ajaran Islam. Akan selalu ada yang bertanya, bergunjing, tentang kita sebagai makhluk sosial dan kehidupan pribadi.

Saya lahir, kita lahir, bukan untuk memuaskan keinginan semua orang. Bukan untuk menuruti keinginan satu-per-satu harapan mereka. Mulut mereka yang bergunjing, akan diadili suatu saat nanti. Dan tugas kita sesungguhnya adalah menutup dua pasang telinga ini sambil melangkah maju kedepan.

Jangan dimasukkan dalam hati, toh mereka juga bertanya tanpa hati.

Jangan dibawa menjadi beban, karena mereka tak akan membantumu memikulnya.

Doakan saja, semoga suatu saat hal ini menjadi budaya tabu; bertanya dan mencampuri kehidupan orang lain secara berlebih. Or maybe in the future, bakal ada yang menciptakan filter penyaring agar hanya informasi dan pertanyaan penting saja yang masuk telinga kita. Well, nothing’s impossible, right? 😉

sign

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s