Sulitnya Mencari “Halal” di Jepang

Halal dan Haram

    Belakangan ini, kata Halal menjadi bahan perbincangan, baik turis yang datang dengan tujuan berwisata di Jepang, maupun orang Jepang sendiri. Di kampus sewaktu makan siang bersama teman, mereka juga bertanya kenapa saya gak pernah makan babi dan makanan olahan yang bercampur babi dan alkohol. Hampir semua menu di kantin kampus, maupun di restoran, mengandung ekstrak dan kaldu dari daging babi, jadi kalau makan di luar, saya harus ekstra hati-hati dalah memilih makanan dan minuman.

    Sebenarnya, apa sih Halal itu? Menurut definisinya, Halal adalah segala objek atau kegiatan yang diizinkan untuk digunakan atau dilaksanakan, dalam agama Islam. Lawan dari halal adalah haram. Semua jenis makanan dan minuman pada dasarnya adalah halal, kecuali hanya beberapa saja yang diharamkan. Yang haram itupun menjadi halal bila dalam keadaan darurat. Sebaliknya, yang halal pun bisa menjadi haram bila dikonsumsi melampaui batas.Untitled1.jpg

    Makanan yang dikatakan halal adalah semua bahan makanan kecuali bangkai hewan, darah, hewan bertaring (seperti anjing, kucing), dan babi. Selain itu, semua binatang yang mati tidak melalui proses penyembelihan hukumnya adalah haram, disamakan dengan bangkai. Termasuk binatang yang mati dalam pengangkutan sekalipun baru sebentar, maka tidak boleh ikut disembelih dan dikonsumsi manusia. Makanan yang halal pun dapat menjadi haram apabila tidak diproses secara halal. Proses penyembelihan hewan harus dilakukan oleh seorang muslim, dengan menyebut nama Allah dan menggunakan pisau yang tajam.

   Lalu, bagaimana tentang minuman? Islam juga menerangkan bahwa semua jenis minuman yang memabukkan adalah haram, seperti minuman beralkohol. Minuman dengan kadar alkohol rendah, walaupun orang mengatakan tidak akan mabuk karenanya, tetap dikategorikan dalam minuman haram.

Kesulitan para turis Muslim saat datang ke Jepang

   Kesulitan para turis Muslim saat berwisata ke negara dengan mayoritas penduduknya bukan memeluk ajaran agama islam, adalah mencari makanan yang halal serta mencari tempat untuk beribadah. Berkaitan tentang makanan halal, di Jepang sendiri tergolong sulit, karena kebanyakan menu masakan yang disajikan di restoran, atau yang dijual di toko dan supermarket tidak halal. Beberapa menggunakan bahan makanan yang tidak halal, seperti daging babi, ekstrak kaldu babi, maupun daging ayam dan sapi yang tidak diproses secara Islam. Selain itu, penggunaan mirin dan sake yang mengandung alkohol dalam menu masakan tentu menjadikan makanan tersebut tidak bisa dikategorikan halal.

   Contohnya adalah Sushi, menu masakan Jepang yang terkenal dan selalu dicari para Turis saat berwisata kesini. Walaupun menggunakan bahan dasar beras, rumput laut, ikan, dan hewan laut lainnya, sayang sekali bahwa terkadang Sushi tidak dapat dimakan karena terdapat kandungan mirin dalam cuka yang ditambahkan di nasi sushi tersebut. Selain itu, kecap asin (shoyu) yang digunakan sebagai pendamping sushi, kerap mengandung alkohol sehingga tidak dapat dikatakan halal.Untitled2.jpg

    Sebenarnya, mengkonsumsi sesuatu yang halal merupakan prosedur yang harus dipatuhi seluruh umat Islam. Namun setiap muslim memiliki tingkat kepatuhan yang berbeda. Ada yang sangat teliti membaca komposisi makanan, bahkan sampai menelon customer service perusahaan yang memproduksi makanan tersebut, untuk menanyakan apakah makanan tersebut mengandung bahan haram atau tidak. Tak sedikit juga dari mereka yang menolak mengkonsumsi produk tersebut, jika tanpa logo halal yang tercantum di kemasannya. Ada pula yang tetap memakan makanan dengan bahan yang biasanya halal (misalnya daging ayam, daging sapi), walaupun tanpa logo halal. Namun beberapa orang ada yang tidak peduli kandungan makanan tersebut, walaupun terkandung bahan haram (seperti kaldu dan daging babi) tetap saja disantap. Muslim yang sangat mematuhi ajaran Islam, biasanya menolak untuk membeli daging sapi, daging ayam yang dijual bebas di supermarket Jepang, dengan alasan, penyembelihan daging tidak dilakukan secara Islam.

Harapan kepada Perusahaan Makanan & Minuman di Jepang

   Jika jumlah perusahaan Jepang yang menyediakan menu dan bahan makanan halal, serta mencantumkan komposisi produk, mungkin akan memudahkan kaum Muslim yang tinggal dan berwisata di Jepang , untuk memilih dan mengkonsumsi makanan. Tak hanya itu, penggunaan mirin, alkohol dalam makanan, seperti kue, mungkin akan lebih baik jika dibuat versi “non-alkohol”nya, sehingga seluruh Muslim dapat mengkonsumsinya tanpa khawatir. Menyambut Olimpiade yang akan digelar tahun 2020, menurut saya, akankah lebih baik jika Jepang memiliki perusahaan makanan dan minuman yang menyediakan produk bersetifikat halal, agar para turis yang datang dari seluruh penjuru dunia dapat menikmati hidangan Jepang yang terkenal dengan kelezatannya. Kalau menu halal juga disajikan direstoran, pastinya kita bisa menikmati makanan dengan tenang bukan? 😀

sign

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s