Carilah Sebuah Masalah, Lalu Pikirkan !

Di postingan kali ini, aku mau cerita sedikit tentang penelitianku sekarang. Jadi, selain wajib membaca thesis luar negeri, kami juga diwajibkan untuk mempresentasikan isi nya (tujuan, algoritma, tata cara percobaan, dan hasil) dalam waktu kurang lebih lima menit. Setelah itu ada edisi tanya-jawab dan komentar tentang thesis yang dibacakan tadi. Kegiatan seminar (dalam bahasa Jepangnya: Zemi  /ゼミ) ini dilakukan tiga kali dalam satu minggu.

Kemudian ada yang namanya seminar progress penelitian (進捗ゼミ). Ini bertujuan agar dosen tahu sampai sejauh mana hasil lab yang kita kerjakan. Dan kemarin, saat zemi, sensei bertanya, “Dalam perkembangan sistem rekomendasi rute (karena tema penelitianku tentang ini), “Masalah apa yang sekiranya bisa membuat dan membantu tugas manusia agar bisa mengendara lebih baik?”. Lalu aku pun berpendapat bahwa sistem navigasi yang ada saat ini, hanya dapat memberi rekomendasi rute yang tercepat, secara waktu dan efisiensi BBM. Sedangkan untuk faktor lainnya, seperti lebar jalan, banyaknya tikungan, ataupun pemandangan saat mengemudi, belum ada algoritma yang menghasilkan rekomendasi rute yang sempurna.

Source: Pixgood.com
Source: Pixgood.com

Lalu, tiba-tiba para senior berpendapat…”Saya sudah cukup puas dengan teknologi route recommendation yang ada saat ini. Sebaliknya, jika sistem terlalu “mengatur” manusia, malah akan menjadi penghambat saja. Jika memang harus diperbaiki, mungkin salah satunya adalah User Interface, dimana pengguna GPS tidak harus mengetik lewat touchscreen, tetapi juga dapat memasukkan input data lewat suara. Iya, voice recognition. Jadi seperti Siri (iPhone), para pengguna dapat “berkomunikasi” melalui suara, lalu sistem dengan sendirinya akan memberi petunjuk rute yang direkomendasikan.

Oh iya, betul juga, perbaikan di User Interface.

Tapi, penelitianku ini lebih ke software, atau algoritma sistemnya. Dan benar saja, dosenku lalu berkata, “Kamu yakin bisa melakukan ini jika ada uang, waktu, dan tenaga?”. Lalu, “Kalau yang berhubungan dengan bahasan mengenai penggunaan voice recognition pada GPS, tentu saja bisa”, dengan PD-nya aku menjawab. Dosenku membalasnya seperti ini, “Lalu.. ini bukan penelitian. Kamu tahu apa itu penelitian? Berpikir. Suatu hal yang tidak bisa kita selesaikan, walaupun kita mempunyai tiga faktor (uang, waktu, tenaga) tersebut. Justru karena kita tidak mengetahui hasil akhirnya, entah gagal ataupun berhasil, itulah yang disebut penelitian.”

Aku diam.

Kelas pun menjadi hening. 

Beliau benar, jika kita mengetahui akankah menjadi hitam atau putih suatu hal, kita tidak akan berpikir lebih dalam. Sedangkan jika kita menganggapnya “abu-abu” maka kita akan terus berpikir, akankah hal tersebut menjadi hitam, putih, atau justru warna lain yang belum pernah ditemukan siapapun. Akan jadi apa hasilnya, itu bukanlah yang terpenting. Proses penelitian, jalan pemikiran, dan alasan ketika hal tersebut berhasil ataupun gagal, itulah pokok yang penting.

Berhasil itu bukan harga mutlak. Saat ini ia mungkin buram, entah putih atau hitam. Tapi usaha kita dapat membuat samar itu menjadi terang, atau gelap.

– G.A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s