Achievements or Child?

      Dear girls, it’s true that we have to study at formal education as high as possible. But when we achieved high education through formal education, it doesn’t mean that we have to work/get a job by 24hrs a day to get money and achievements. The main is: with our knowledge, we teach our child. Read this below article, (which was written by Suara Pembaruan), and find out that as a girl/woman/mother, we have to take care of children’s future, not job/money/achievements as the most important thing in life.
From Flickr
From Flickr

Ibu Pendidik Utama 
     Kemajuan sebuah bangsa tak pernah lepas dari peran kaum ibu. Ya, ibu-ibulah yang mendidik anak-anak bangsa agar kelak berprestasi dalam segala bidang untuk memajukan dan mengharumkan nama bangsa. Salah satu contoh negara yang maju dan sukses karena peran kaum ibu adalah Jepang. Para ibu di Jepang umumnya berpendidikan sarjana di berbagai bidang. Gelar pendidikan yang diperoleh tak menyilaukan mereka untuk menjadi wanita karier dan bekerja di kantor-kantor.
   Ilmu pengetahuan yang diperoleh selama duduk di bangku sekolah dan kuliah justru dimanfaatkan untuk mendidik anak-anak. Tak heran bila para ibu di sini mengajar sendiri anak-anaknya dengan filosofi Jepang, membaca, menulis, hingga pelajaran sekolah, seperti matematika, fisika, dan kimia. Bekal ilmu yang diperoleh di rumah mempermudah anak-anak menyerap ilmu yang diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi. Peran penting orangtua, khususnya ibu, dalam mendidik anak-anak di Jepang terus diwariskan hingga kini. Kenyataan tersebut melahirkan putra-putri yang cerdas dan terampil, tetapi tak melupakan nilai-nilai luhur bangsa.
     Hal sebaliknya justru terjadi di negeri Kita. Kalau pada masa lalu, sebagian besar ibu mendidik sendiri anak-anaknya meski mereka tak berpendidikan atau hanya berbekal pendidikan rendah, sekarang ini justru banyak ibu yang melupakan pendidikan anak di rumah. Sejak kecil, Soekarno dididik untuk menjadi “orang besar”. Sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai juga selalu memanggilnya dengan sebutan “putra sang fajar” dan akhirnya Soekarno benar-benar menjadi salah satu pemimpin bangsa ini. Aura positif dan motivasi yang terus ditanamkan sejak lahir membuat Soekarno tumbuh menjadi putra yang membanggakan keluarga dan juga bangsa. Para pahlawan, tokoh-tokoh nasional, dan pengusaha sukses, tak mungkin bisa dilepaskan dari peran ibu dan keluarga. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam pendidikan anak.
     Sayangnya, sebagian besar ibu dari kalangan menengah ke atas yang berpendidikan sarjana saat ini justru mengejar prestasi pribadi dengan mengaktualisasikan diri di berbagai bidang, tetapi melupakan tugas utama mendidik anak. Terkadang, tugas sebagai istri terhadap suami pun tak diperhatikan. Sebagian ibu lebih suka arisan, berbelanja, atau asyik ber-gadget ria dengan sahabat-sahabat di facebook dan twitter. Aktivitas yang menguras waktu itu membuat mereka memasrahkan urusan makanan anak dan suami kepada pembantu dan restoran, serta masalah pendidikan dan akhlak anak ke sekolah, bimbingan belajar, atau guru privat. Kasih sayang dan kehangatan seorang ibu semakin tak terasa di rumah.
Tak heran bila banyak anak dan remaja saat ini terjerumus mengonsumsi narkoba, berperilaku tidak sepantasnya, terlibat tawuran, dan lebih suka hidup penuh hura-hura. Meski demikian, kita juga tak menutup mata terhadap kaum ibu yang tetap setia mendidik anak dan mencurahkan kasih sayang di tengah himpitan tugas-tugas kantor.
Selain potret ibu dari kalangan menengah-atas yang cenderung mengabaikan fungsinya dalam keluarga, masih banyak perempuan dan ibu dari kalangan menengah ke bawah yang belum menikmati hak-hak dasar sebagai warga negara. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan sekitar 10 persen perempuan berusia 15 tahun ke atas masih buta huruf dan persentase perempuan yang menamatkan perguruan tinggi hanya 6,13 persen, serta angka kematian ibu (AKI) yang masih cukup tinggi, yakni 228 per 100.000 kelahiran hidup.
   Terkait hal itu, kita mendesak kementerian terkait, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk lebih memperhatikan kaum perempuan dan ibu. Hal utama yang harus diperhatikan adalah memberi pemahaman kepada orangtua tentang pentingnya pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak perempuan.
    Diskriminasi terhadap anak perempuan masih tetap terjadi di masyarakat, padahal mereka memiliki peran besar dalam melahirkan generasi bangsa yang berkualitas. Kehadiran Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang pernah populer di masa lalu dan program sejenis merupakan jawaban terhadap persoalan kesehatan. Bila tingkat pendidikan dan kesehatan kaum perempuan dan ibu di Indonesia semakin baik, bukan mustahil negeri ini akan lebih maju di masa mendatang.
     Hanya saja, kita tetap mengingatkan kaum perempuan dan ibu agar tak melupakan kodratnya, yakni melahirkan, mendidik, serta memberi kasih sayang kepada anak. Kita mendukung perempuan menuntut ilmu setinggi mungkin dan mengaktualisasikan diri di berbagai bidang, tetapi tak melupakan fungsi mendidik anak-anak di rumah. Anak-anak yang dididik dengan baik di rumah niscaya membanggakan keluarga. Bangsa ini membutuhkan ibu-ibu untuk menjadi pendidik utama dalam keluarga. 

(Suara Pembaruan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s