3 Hal 2 Hati 1 Rasa

Lucu. 
Bagaimana dunia bisa memberimu tawa dan tangis di satu harinya. Ia kadang yang mengajakmu bercanda, berbagi kisah dan cerita tentang kehidupan serta isinya. Lalu membawa warna pada hidupmu, walau tak selalu cerah bagai sinar pagi di ufuk utara. Kemudian kamu akan belajar di tiap detiknya, untuk menghargai sebuah pertemuan, kesempatan, dan perpisahan. Dan dalam kehidupan, Tuhan akan mempertemukanmu dengan mereka yang tak pernah kamu temui, ataupun kenal sebelumnya. Kebetulan? Tentu saja tidak. Mereka, memberikan perannya dalam kehidupanmu. Membuatmu sadar tentang si baik dan si buruk, tentang bahagia dan sedih, tentang suka dan duka, lalu tentang cinta dan perpisahan.

Tentang cinta. 

Ada yang datang, memberi cinta dan perhatian, yang membuat kamu merasakan apa itu arti nyaman. Cintanya yang tulus mengajarkanmu untuk berkorban walau tersakiti, menunggu dalam penantian panjang, serta mengerti walau kadang logika menolaknya. Cinta tak butuh abstrak, pun juga seribu kata. Tetapi hangat akan hadirnya bisa kamu rasakan di relung hati kecilmu itu. Dan kamu merasa bahwa cintanya adalah sebuah kebutuhan, apa yang kamu cari selama ini, tanpa harus bertanya kemana arah hatimu akan berlabuh. Jangan mengajari cinta tentang apa yang harus ia lakukan. Biarkan ia bebas membentuk dirinya, tanpa harus kamu dikte dari A sampai Z, karena cinta yang tulus mengajarkan kita saling memahami tanpa lisan bersuara. Bukan cinta jika ada kata paksaan atau merubahnya manjadi apa yang ingin kamu bentuk.

Katakan ini pada dirimu: “Hatiku, ijinkan aku mengajarkanmu tentang rasa yang membuat degup jantungku. Tentang hangat yang memelukku kala pagi menjelang. Tentang ukiran senyum kala aku mengingatnya. Namun, aku takkan membiarkanmu jatuh terlalu dalam, karena kutahu sakitnya ketika seseorang menghancurkanmu beribu retak. Tetapi, jika waktu bisa membuktikan dan cinta mengulurkan tangannya, takkan kularang kau mendekap erat sebuah hati yang telah menyembuhkan luka itu.” 

Tentang luka.     

Ketika ada yang datang memberi luka. Tak mengapa, berarti ia sedang mengajarkan kita tentang kekuatan hati. Tentang ikhlas memberi maaf, serta senyum saat hati menangis. Tak mengapa jika seseorang menoreh perih dihidupmu, karena jika tak kamu rasakan tentang pesakitan, bagaimana kamu bisa menghargai arti sebuah kata bahagia? Jangan, air mata itu tak perlu diseka. Biarkan ia mengalir membasahi pipimu bersama luka yang kamu rasa. Luka, mungkin bisa mengering walau bekasnya tak mudah dihilangkan. Perih? Tentu. Tapi perlahan ia akan terobati seiring waktu, bersama dengan sebuah tatapan baru yang membawa cinta dan asa.

Tentang asa.   

Lalu ada yang datang memberi segenggam harapan, membawa kembali serpihan hati yang terluka. Ia mengobatinya bagai ketulusan malam menanti bintang. Harapan yang mengajarkan kita untuk bangkit dari masa lalu dan menatap indah langit jingga. Asa mu dak perlu kau tinggikan untuk membuat mereka kagum. Tanamkan harapan dan citamu di pikiran dan terus raih untuk mewujudkannya. Tak ada yang bilang bahwa semua tergantung hasil, karena aku justru menikmati prosesnya. Sebuah proses dimana terjatuh, gagal, sakit, dan terluka. Lalu kemudian sebuah tangan menangkapmu dan mengajak untuk bangkit kembali bersama pelukan yang sebelumnya tak pernah kamu rasa.

G.A 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s